Kultum Prof. Dr. HM. Nazir Karim: Puasa dan Mengukuhkan Eksistensi Metafisika Ilmu dalam Islam

- 2 Mei 2021, 05:49 WIB
Prof. Dr. HM. Nazir Karim
Prof. Dr. HM. Nazir Karim /Istimewa/


JAKARTA UTARA NEWS - Sejarah tradisi keilmuan dalam Islam mencatat bahwa ilmu pada periode awal Islam belumlah tersusun sebagai-mana yang ada sekarang. Persoalan-persoalan yang ada memang sudah dibahas sedemikian rupa, namun belum disusun dalam suatu sistem keilmuan. Rujukan keilmuan pada masa itu lebih didasarkan kepada riwayat dan pendapat para pemikir sebelumnya.


Persoalan-persoalan keilmuan senantiasa berkembang, sejalan dengan perkem-bangan masyarakat, kuantitas, dan kualitas ulama. Ilmu pengetahuan pada masa klasik Islam masih satu, belum terpecah-pecah ke dalam disiplin-disiplin yang berbeda. Ilmu pada waktu itu lebih berorientasi kepada apa saja yang dipikirkan oleh manusia, bagaikan filsafat yang pemba-hasannya mencakup semua yang dipikirkan manusia.

Ketika ilmu sudah mulai diperoleh melalui pengujian-pengujian dan percobaan-percobaan dan tidak hanya didasarkan kepada periwayatan-periwayatan dan pendapat orang-orang terdahulu, maka ilmu mulai memasuki fase penyusunan persoalan-persoalan yang semuanya dikumpul-kan dan dihimpun dalam suatu paket disiplin ilmu yang kemudian menjadi cabang ilmu yang berdiri sendiri. Ilmuan pada awalnya mengarahkan penyelidikannya kepada fenomena-fenomena kealaman, tetapi kemudian berpindah kepada penyelidikan tentang fenomena yang berkaitan dengan manusia dan pola pikirnya. Perpaduan keduanya melahirkan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial.

Baca Juga: Pintu Masuk Diperketat, Australia Antisipasi Warga India Masuk ke Wilayahnya

Melihat perkembangan yang demikian itu, Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa ilmu di kalangan umat Islam dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, sisi naqly, yaitu ilmu yang bersumber kepada wahyu (al-Qur’an dan Sunnah). Kedua, sisi ra’yi, yaitu ilmu yang dikembangkan oleh akal manusia melalui nalar.


Gerakan ilmiah itu terus berkembang sehingga pada masa Abbasiah. Hampir semua cabang ilmu mendapat sentuhan gerakan keislaman. Demikian spektakulernya perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu, yang menurut Ibnu Khaldun adalah karena dimungkinkan oleh perkembangan masyarakat perkotaan yang identik dengan masyarakat industri.

Ibnu Khaldun memang menyuguhkan tesis bawha perkembangan masyarakat berbanding sama dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Semakin maju masyarakat, maka akan semakin berkembang pula ilmu pegetahuan. Itulah sebabnya Irak pada masa Abbasiah jauh lebih maju dari pada Damaskus di zaman Umayyah.

Faktor kedua yang meyebabkan ilmu berkembang pada Abbasiah adalah karena faktor orang-orang Persia yang sudah banyak terlibat dan bahkan menguasai kerajaan. Sebagaimana diketahui, pada masa itu orang-orang Persia yang sebelumnya memang sudah dikenal dengan reputasi keilmuannya, ketika mereka mendapat kebebasan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, mereka memanfaatkan sedemikan rupa dan mereka berhasil dalam hal tersebut. Kondisi itu ditambah pula oleh faktor kehidupan sosial yang berkembang di Irak yang sangat membutuhkan berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk membangun pranata-pranatanya.

Disamping itu ada pula faktor pribadi ilmuan yang mengingin kemajuan di segala bidang kehidupan, dan juga didorong pula oleh khalifah yang berkuasa.

Halaman:

Editor: H. Attan


Tags

Artikel Terkait

Terkini

X