Agus Hartono, Sang Mafia Tanah Disinyalir Miliki Tiga e-KTP, Kemendagri Harus Turun Tangan

- 29 April 2021, 23:37 WIB
Puluhan korban mafia tanah tengah menuntut haknya untuk kembali. Agus Haryono dalam melancarkan modus mafia tanahnya dengan banyak menggandakan e-KTP, sehingga mudah ketika masuk keperbankan.
Puluhan korban mafia tanah tengah menuntut haknya untuk kembali. Agus Haryono dalam melancarkan modus mafia tanahnya dengan banyak menggandakan e-KTP, sehingga mudah ketika masuk keperbankan. /Jakartautaranews/


JAKARTA UTARA NEWS - Seorang mafia tanah asal Semarang, Agus Hartono disinyalir memiliki 3 Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan alamat yang berbeda-beda. Hal ini dibuktikan dengan kepemilikan KTP sebanyak tiga dengan alamat yang berbeda-beda.

“Nama yang tercantum dalam e-KTP sama, atas nama Agus Hartono, tapi yang berbeda NIK dan alamatnya,” kata seorang korban Mafia Tanah, Ibu Sri Wiganti asal Salatiga, Jawa Tengah.

Menurut ibu Sri, nomor NIK yang tercantum pada KTP-nya bila tidak teliti secara seksama akan tampak sama, sebab yang membedakan hanya 1 atau 2 nomor dari NIK yang tertera.

Baca Juga: Sidang Kasus Pidana Pasar Modal, Mantan Bos AISA Merasa Dikriminalisasi

Pada NIK pertama tercantum dengan nomor : 3374032406850002. NIK ini bila ditelusuri di Disdukcapil bernama Agus Hartono, dengan alamat di Jl. Bukit Abadi No. 1 RT. 001 RW. 011, Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik, Semarang Jawa Tengah. Sementara Kartu Keluarga bernomor : 3374112108140006.

Sementara NIK kedua, terbit dengan nomor : 3319012406850002, yang beralamat di DK Krajan RT. 006 RW. 001, Kelurahan Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Nomor KK yang tercantum, yakni; 33190128121200013.

NIK ketika bernomor: 3373032406850002, yang beralamat di Kota Salatiga, Karang Kepoh I, RT. 005 RW. 001, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo. Pada nomor NIK ini tidak mencantumkan nomor KK karena hanya tercatat di akte notaris Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Ngilma Khoirunnisa, SH., M.Kn, beralamat di Jalan Imam Bonjol 23 C, Salatiga.

“Ketiga e-KTP tersebut dijadikan alat menipu para korban pada saat melakukan transaksi pembelian, hingga proses akta jual beli (AJB) dan kemudian membawa sertifikat-sertifikat kami yang dipinjam dengan alasan akan dicek di dinas ATR/BPN, namun ternyata sudah dijadikan jaminan di bank,” ungkap wanita berusia 67 tahun itu kepada wartawan.

Sementar itu, Lukmanul Hakim, SH, kuasa hukum para korban, menegaskan, bahwa niat tidak baik sudah dilakukan oleh Agus Hartono karena sudah banyak membuat KTP palsu yang diduga dilakukan sebagai upaya untun melancarkan di ATR/BPN dan perbangkan.

Halaman:

Editor: H. Attan


Tags

Artikel Terkait

Terkini

X