Cetak Milenial Jadi Manusia Unggul, PKS: Perlu Kebijakan dan Strategi

- 2 Mei 2021, 12:36 WIB
Saatnya untuk melakukan gerakan ke generasi millenial dan merangkul kepentingannya, sehingga banga ke depan dapat ditumbuhkembang dengan aksi-aksi yang nyata.
Saatnya untuk melakukan gerakan ke generasi millenial dan merangkul kepentingannya, sehingga banga ke depan dapat ditumbuhkembang dengan aksi-aksi yang nyata. /IDNtimes

 

JAKARTA UTARA NEWS – Anggota DPR RI Fraksi PKS, Anis Byarwati menilai perlu kebijakan dan strategi untuk mencetak generasi milenial menjadi manusia-manusia unggul untuk membawa bangsa Indonesia mencapai masa kejayaan.

“Di era disrupsi, mereka yang unggul yang dapat menjadi pemenang. Jadi, kemampuan kita mempersiapkan manusia-manusia unggul selama 15 tahun ke depan akan menentukan keberhasilan kita dalam memanfaatkan celah kesempatan dari bonus demografi,” kata Anis dalam keterangannya, Minggu, 2 Mei 2021.

Baca Juga: Desamu Ingin Punya Wisata, Yuk Daftar di Jaringan Desa Wisata Menparekraf

Hal itu dikatakannya saat memberikan sambutan dalam acara wisuda LBQ Al-Utsmani Jakarta secara daring pada Sabtu (1/05). Menurut Anis, Indonesia akan mendapat anugerah bonus demografi selama rentang waktu 2020- 2035, yang akan mencapai puncaknya pada 2030.

Anggota Komisi XI DPR RI itu menilai bonus demografi itu bisa jadi akan menjadi berkah atau jadi musibah bila kita tidak mempersiapkan generasi yang akan mengisi era tersebut.

“Pada rentang waktu 2020 sampai 2035 dunia akan diwarnai Generasi Y atau Angkatan digital yang terbentuk dari mereka yang lahir pada 1980-1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Secara umum generasi millenial memiliki karakter sangat akrab dengan media dan internet,” ujarnya.

Anis mengutip berdasarkan Infografis Pusat data media Republika, menyebutkan ada sekitar 80 juta milenial lahir pada 1976-2001.

Menurut dia, para milenial rata rata mengalihkan perhatiannya pada PC, “smartphone”, tablet, dan televisi 27 kali setiap jamnya, dibandingkan dengan Generasi Baby Boomers kelahiran tahun 1960-1970-an yang hanya mengakses gadget 17 kali per-jam.

Halaman:

Editor: H. Attan


Tags

Artikel Terkait

Terkini

X